Sistem numerasi Romawi yang kita ketahui saat ini adalah merupakan
modernisasi sistem adisi (penambahan) dari sistemnya yang lama. Dalam sistem
ini tidak mempunyai nilai tempat kecuali pada hal-hal tertentu yang sangat terbatas.
Demikian pula dalam sistem ini tidak mempunyai nol.
Sistem Romawi sudah ada sejak 260
tahun SM, akan tetapi sistem Romawi seperti yang kita kenal sekarang ini
ternyata belum lama dikembangkan. Misalnya lambang bilangan untuk empat (IV)
dulu ditulis IIII; lambang bilangan lima puluh (L) pernah berbenuk ^, ¯, û; lambang bilangan
seratus ( C ) pernah berbentuk Q, Å, Ä.
Dalam sistem ini, simbul
dasarnya adalah I, V, X, L, C, D, M yang berpadanan dengan:
I = satu (1)
V = lima (5)
X = sepuluh (10)
L = limapuluh (50)
C = seratus (100)
D = limaratus (500)
M = seribu (1000)
Sebenarnya lambang bilangan V, L dan D adalah simbul dasar tambahan.
Lambang bilangan yang merupakan gabungan
dari simbu-simbul dasar ditulis berdampingan.
Bila lambang suatu bilangan ditulis dengan dua angka, sedangkan angka
disebelah kanannya lebih kecil maka arti penulisan tersebut adalah
jumlah/penjumlahan, misalnya:
VI = menyatakan lima (5) tambah satu (1) = enam (6); jadi VI = 6
XIII = 10 + 3 = 13, dan sebagainya
Bila
lambang suatu bilangan ditulis dengan dua angka, sedangkan angka disebelah
kirinya lebih kecil maka arti penulisan tersebut adalah selisih/pengurangan.
IV = menyatakan lima (5) dikurangi satu (1) = empat (4); jadi IV = 4
XL = 50 - 10 = 40
Dalam
hal pengurangan ini ada aturannya yaitu:
I hanya boleh dikurangkan pada V
atau X
X hanya boleh dikurangkan pada L dan C
C hanya boleh dikurangkan pada D dan M
Contoh:
99 misalnya tidak boleh ditulis IC, tapi harus dinyatakan dengan 90 + 9,
jadi
99 = XC + IX = XCIX
999 = 900 + 90 + 9 = CM + XC + IX = CMXCIX
Bila
dua angka atau lebih yang sama ditulis berdampingan, simbul gabungan tersebut
artinya jumlah/penjumlahan, misalnya:
II = 1 + 1 = 2
III = 3
IIII tidak ada, diganti IV = 4
VV tidak ada, diganti X
XXX = 10 + 10 + 10 = 30
XXXX tidak ada, diganti XL = 40
Untuk memberi nama
bilangan-bilangan yang besar digunakan prinsip perkalian.
Satu tanda strip atau
coretan diatas X, C, M, XX misalnya menunjukkan seribu kali dari nilai
dibawahnya
Dua
tanda strip/coretan diatas angka menunjukkan perkalian dengan sejuta, misalnya:
SISTEM NUMERASI HINDU-ARAB
Sistem numerasi ini disebut juga
sistem numerasi desimal. Kata desimal berasal dari istilah Latin “decem” yang
berarti “sepuluh”. Sistem ini menggunakan sepuluh simbul pokok (angka) yaitu 0,
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Angka-angka ini sering disebut sebagai angka
Arab.
Pada bulan Agustus 570 M, Nabi Muhammad saw dilahirkan. Beliau
menyebarkan agama Islam, dan dalam waku yang singkat, tanah Arab sendiri,
Afrika bagian Utara, daerah sekitar Laut Tengah, Spanyol, Perancis Selatan,
Italia Selatan, Persia terus ke timur sampai India ada di bawah kekuasaan
Islam. Dalam waktu yang singkat, Islam berhasil menciptakan masyarakat yang
maju dan berkebudayaan tinggi antara tahun 800-1200 M. Pusat kegiatan ilmiah
yang sangat terkenal adalah Cordova di Spanyol dan di Bagdad (Irak). Dari
sinilah asal mula sistem Hindu-Arab diperkenalkan ke daratan Eropa. Mula-mula
orang Eropa tidak mau menerima sistem ini karena datangnya dari orang-orang
Islam yang menurut mereka pada waktu itu orang Islam berasal dari Arab yang
tidak bertuhan. Lama kelamaan sistem ini bisa diterima oleh sebagian besar
masyarakat dikarenakan lebih baik dari sistem numerasi yang mereka pakai saat
itu. Akhirnya sistem numerasi Hindu-Arab dipakai oleh sebagian besar masyarakat
dunia sampai saat ini.
Disebut Hindu-Arab karena menurut sejarah sebelum orang Arab menciptakan
sistem yang sempurna dan menyebarkannya ke daratan Eropa, orang Hindu sudah
menggunakan sistem ini meskipun belum sempurna. Sekitar 250 tahun SM, orang
Hindu di India dibawah raja Asoka telah menggunakan simbul-simbul atau
angka-angka ini, tapi belum mengenal nol dan belum mengembangkan nilai tempat.
Baru setelah tahun 825 M ahli Matematika Persia Al Khowarizmi menjelaskan
mengenai kesempurnaan sistem Hindu-Arab.
Sistem Hindu-Arab : 1
2 3 4
5 6 7
8 9 0
Dalam sistem Hindu-Arab simbul-simbul dasar digabungkan dan ditulis
mendatar, dan tempat dari simbul-simbul dasar tersebut mempunyai makna yang
berbeda. Oleh karenanya lambang bilangan
dalam sistem Hindu-Arab mengenal nilai tempat. Lambang bilangan 42675 misalnya dapat ditulis secara panjang
|
|
Tanda koma (berpadanan dengan
tanda titik untuk notasi Internasional) dipakai untuk memisahkan angka yang
menggambarkan bilangan cacah dengan angka yang menggambarkan bilangan lebih
kecil dari satu. Lambang bilangan 571,68 misalnya adalah nama bilangan yang
dapat ditulis dalam bentuk panjang
Yang perlu ditekankan bahwa keunggulan sistem numerasi Hindu-Arab ini
adalah adanya nilai tempat dan nol.

0 Response to "SISTEM NUMERASI ABACUS (ROMAWI) & SISTEM NUMERASI HINDU-ARAB"
Posting Komentar